Pemikiran Hermeneutika al-Qur'an Hassan Hanafi

Posted by Muhamad Fauzi On Thursday, December 15, 2011 0 komentar
Al-qur’an sebagai pedoman hidup bagi manusia akan termaknai sebagai media menuju jalan Tuhan yang maha perkasa dan bijaksana jika dipelajari dan dipahami berdasarkan petunjuk yang terdapat didalamnya, baik secara tersurat maupun tersirat (Q.S>. Shad, 38:29). Al-qur’an sebagai sentral pembentukkan ajaran, pemikiran dan peradaban dalam Islam, membutuhkan pendekatan baru untuk memahami maknanya, hal itu dikarenakan pendekatan lama yang menggunakan metodelogi penafsiran klasik dianggap tidak dapat memberikan solusi terhadap persoalan baru yang membutuhkan penyelesaian.
Berdasarkan alasan di atas, maka muncul gerakan pembaharuan pemikiran Islam dimulai sejak abad ke-18 H, yang melakukan reinterpretasi “cara baca” terhadap al-qur’an. Salah satu tokoh pembaharuan pemikiran Islam itu adalah Hassan Hanafi, yang melakukan rekonstruksi untuk ilmu ushul fiqih maupun penafsiran fenomena keagamaan dengan menggunakan pendekatan hermeneutika.
Menurut Hassan Hanafi, tafsir tidaklah lahir dalam kehampaan, melainkan terwujud dalam waktu dan tempat tertentu dalam suatu kesejarahan tertentu juga. Oleh karena itu, umat masa kini dituntut untuk merumuskan metode tafsir yang sesuai dengan kemashlahatan, keperluan dan persoalan yang di hadapi umat Islam saat ini (Hassan Hanafi, al-Din al-Din wa al-Tsaurah Fi Mishr 1952-1981 Vol.7, hal. 1).
Hassan Hanafi menyatakan bahwa untuk kebangkitan yang menyeluruh dalam reformasi keagamaan yang mempengaruhi revolusi sosial dan politik umat Islam, dibutuhkan metodelogi tafsir yang melampaui tafsir tekstual dan historis, yang tidak memposisikan al-qur’an dalam ruang dan waktu yang sempit pada masa Rasulullah semata, Beliau menyebutnya dengan tafsir kesadaran (al-Tafsir al-Syu’uri), yaitu tafsir yang memposisikan al-qur’an agar mendeksripsikan manusia, hubungannya antar sesama, tugasnya di dunia, kedudukannya dalam sejarah, membangun sistem sosial dan politik.
Hasan Hanafi menggunakan hermeneutika yang dikembangkan dan dipengaruhi oleh Hermeneutika kontemporer Barat sebagai metodologi untuk memahami al Quran. Meskipun demikian, menurutnya hermeneutika bukan hanya berarti ilmu interpretasi, melainkan juga ilmu yang menjelaskan penerimaan wahyu sejak dari tingkat perkataan sampai ke tingkat prakteknya di dunia.

Problem Hermeneutika al-Qur’an
Secara etimologi hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan atau hermenia yang berarti penafsiran. Istilah tersebut berasal dari nama tokoh dalam mitologis Yunani, yaitu Hermes, seorang utusan Dewa yang menjadi penerjemah pesan Yupiter yang menggunakan bahasa langit agar mudah dipahami oleh manusia yang menggunakan bahasa bumi (Robinson, Hermeneutic since Barth dalam The New Hermeneutic, 1964, 4). Dalam literatur Islam, Hermes adalah Nabi Idris yang dikenal sebagai orang pertama mengetahui cara menulis, memiliki kemampuan tekhnologi/sina’ah, kedokteran, astrologi, sihir dan lain-lain (Sayyed Husein Nasr, Knowledge and The Sacred, 1989, 71).
Sedangkan secara termenologi, dalam makna umum hermeneutika diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi tahu dan mengerti (Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger and Gadamer, 3). Dan secara umum hermeneutika diderivikasikan kepada tiga pengertian, yaitu pertama, pengungkapan pikiran dalam kata-kata, penerjemahan dan tindakan sebagai penafsir. Kedua, usaha mengalihkan bahasa asing yang gelap makna kedalam bahasa lain yang dapat dimengerti oleh pembaca. Dan ketiga, pengungkapan pikiran yang samar diubah menjadi bentuk ungkapan yang jelas.
Dalam Islam, Hermeneutika al-qur’an berkaitan dengan pemahaman dan interpretasi sudah dikenal sejak awal kelahiran Islam. Problem pemahaman dan penafsiran semula terfokus pada al-qur’an, karena merupakan bagian dari agama. Pada masa Rasul al’qur’an berkembang dalam lingkungan dialog dan proses penafsirannya. Sehingga pada masa Rasul dan Sahabat (pasca wafat Rasul dianggap otoritatif penggati Rasul) berkembang wacana “tafsir lisan” yang berbasis riwayat dengan mengutamakan kualitas intelektual dan spiritual. Dan setelah era pembukuan pada abad ke-2 H, terjadi tranformasi budaya lisan kepada budaya tulis yang menjadi pelopor terhadap perkembangan “tafsir tulis” yang menjadikan dilema dimana disatu sisi terjadi penguatan terhadap eksistensi penafsiran dirayah (ra’yu), namun di sisi lain membentuk kemapanan terhadap adanya tafsir riwayah.

Praktek Hermeneutika dalam Tradisi Islam
Perkembangan hermeneutika al-qur’an dapat terbagi ke dalam dua periode berdasarkan kepada kriteria metodeloginya, yaitu periode tradisional dengan hermeneutika al-qur’an pra-perumusan sistematik, adapun tokoh yang termasuk dalam era ini, antara lain al-Syafi’i dalam al-Risalah yang terindikasi mengkaitkan antara ushul fiqh dengan hermeneutika al-qur’an melalui penekanan terhadap pemahaman teks (al-Fahm) dan al-Jahidz yang menekankan kepada penciptaan wacana pemahaman (al-Ifham) yang dapat dipahami audiens yang argumentatif, efisien dan efektif. Serta tokoh yang memadukan antara penekanan terhadap pemahaman teks (al-Fahm) dan penekanan kepada penciptaan wacana pemahaman (al-Ifham), Beliau adalah Ibnu Wahab dalam kitabnya al-Burhan fi Wujuh al Bayan (namun dalam periode tradisional ada beberapa tokoh yang menggunakan term hermeneutika al-qur’an untuk menyebut metodelogi dan teori tafsir yang dipergunakan oleh tokoh yang diteltinya, seperti Auliffe yang membahas tafsir al-Tabari dan Ibn Katsir dan Health yang membahas metodelogi al-Tabari, Ibn Sina dan Ibn ‘Arabi). Dan periode kontemporer dengan hermeneutika al-qur’an perumusan sistematik. Para tokoh yang termasuk dalam kategori ini, yaitu Sayyed Ahmad Khan, Ghulam Ahmad Parwez (India), Muhammad Abduh (Mesir), Hassan Hanafi, Fazlur Rahman, Arkoun, Farid Esack, Amina Wadud Muhsin dsb.

Urgensi Hermeneutika Al-Quran Menurut Hassan Hanafi
Menurut Hassan Hanafi, penafsiran tradisional yang hanya bertumpu pada teks, hanya memindahkan bunyi teks kepada realita, seolah-olah teks keagamaan itu dapat berbicara sendiri. Padahal dari segi epistemologi penafsiran tradisional memiliki kelemahan, diantaranya: tidak menjadikan realita sebagai teks, tidak menjadikan teks sebagai pembuktian realita nalar, tidak dikaitkan denganrealitas sebagai acuan yang ditunjukinya, tidak menjadikan teks bersifat unilateral, mengaanggap hanya ada satu pemahaman dari teks, teks tidak diarahkan kepada rasio dan realitas umat dan tidak memperjuangkan muslim sebagai rakyat melainkan memperjuangkan Islam sebagai prinsip serta tidak menjelaskan perhitungan secara kuantitatif. Untuk menyelesaikannya Hanafi memberikan solusi, yaitu tafsir kesadaran yang memposisikan al-qur’an agar mendeksripsikan manusia, hubungannya antar sesama, tugasnya di dunia, kedudukannya dalam sejarah, membangun sistem sosial dan politik.dan mengajukan alternatif melalui metode analisis pengalaman yang membawa kepada makna teks bahkan realitas itu sendiri.

Tawaran Hermeneutika Tematik (Maudlu’i)
Asal – Usul Metode Tematik
Secara genelogis, tafsir tematik di rumuskan oleh Abdul Hayy al-Farmawi dalam bukunya Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al-Mawdhu'. Adapun metode tematik yang digunakan oleh Hassan Hanafi adalah penyempurnaan metode Hayy al-Farmawi. Menurut Hayy al-Farmawi, tafsir tematik terbagi ke dalam dua bentuk, yaitu: pertama, bentuk penafsiran satu surat dalam al-Qur’an dengan menjelaskan tujuan-tujuannya secara umum dan khusus

Pertimbangan Hassan Hanafi Memilih Metode Tematik
Hermeneutika al-qur’an tematik merupakan pengembangan tafsir bil-ma’tsur yang ditulis dengan metode tahlili yang masih menyisakan beberapa kelemahan, antara lain: potongan tema yang sama dalam beberapa surat, pengulangan tema yang sama, tidak ada struktur tema yang bersifat rasional maupun riil, tidak adanya ideology yang konheren, tafsir yang volumenya sangat tebal sehingga membuat lelah dalam membacanya, mengaburkan informasi dengan pengetahuan, berita yang dinformasikan terpisah dengan kebutuhan-kebutuhan jiwa dan masyarakat sekarang.
Hemerneutika al-qur’an tematik memiliki karakteristik unggul, dintaranya: mendeduksi dan menginduksikan makna, menajdikan mufasir bukan hanya penerima mana melainkan pemberi makna, tidak hanya menganalisis tetapi mensintesiskan dan melakukan penafsiran untuk menemukan sesuatu.

Prinsip – Prinsip Hermeneutika Al-Quran Tematik
Menurut Hassan Hanafi, hemerneutika al-qur’an tematik memiliki prinsip, sebagai berikut: Wahyu diletakkan diantara tidak diterima dan juga tidak ditolak, al-qur’an sebagai subjek penafsiran, tidak ada penafsiran yang benar atau salah, dalam satu teks terdapat lebih dari satu penafsiran dan konflik dari penafsiran adalah konflik sosio-politik bukan konflik secara teori.

Aturan - Aturan Dalam Al-Quran Tematik
Menurut Hassan Hanafi, aturan yang diterapkan dalam hemerneutika al-qur’an, adalah komitmen sosio-politik, mencari sesuatu, membuat outline ayat-ayat yang berkaitan dengan tema-tema dasar tertentu, klasifikasi berdasarkan ilmu bahasa, membangun struktur, perbandingan antara idealitas dan realitas dan penjabaran dari model dengan melakukan suatu tindakan.

Skema Dan Ruang Lingkup Hermeneutika Al-Quran Tematik
Batasan wilayah hemerneutika al-qur’an tematik didasarkan pada tiga lingkaran yang saling berhubungan dengan satu pusat yang sama, yaitu: pertama, pada ada (being, sein) yang merupakan kesadaran individu sebagai inti dari dunia, kedua, mengada dengan yang lain (being with others), yang menunjukkan dunia manusia, dunia sosial dan intersubyektifitas, relasi individu dengan individu yang lain dalam hubungan yang terikat. Dan ketiga, mengada dalam dunia (being in the word, aussein, in-der-welt-sein) yang menunjukkan adanya hubungan kesadaran individu dengan alam, dunia benda-benda.

Tawaran Metode Sosiologis
Karakterisitik Hermeneutika Al-Quran Sosiologis
  1. Hermeneutika al-qur’an yang bersifat parsial, penafsiran yang hanya mengkaji mengenai hajat hidup manusia kontemporer saja, bukan al-qur’an secara keseluruhan.
  2. Hermeneutika al-qur’an yang bersifat tematik,penafsiran yang berpegang teguh keada ensiklopedia al-qur’an dan tafsiran ayat-ayat tentang satu tema yang memamng dibutuhkan sekarang, ada beberapa yang harus diperhatikan, diantaranya: membangun analisis bentuk berdasarkan unsure kebahasaan dan kalimat, analisis makna, memberikan prioritas terhadap tema-tema yang sejalan dengan kehidupan sekaran, membentuk tema dalam kerangka rasional, kokoh dan terpadu.
  3. Hermeneutika al-qur’an yang bersifat temporal, yang hanya sanggup memberikan visi al-qur’an kepada satu generasi dan satu fase waktu tertentu, bukan seluruh generasi dan waktu.
  4. Hermeneutika al-qur’an yang mempunyai makna dan tujuan
  5. Hermeneutika al-qur’an yang berisi pengalaman mufasir
  6. Identifikasi persoalan realitas kehidupan
  7. Hermeneutika al-qur’an yang mengungkap kondisi sosial mufasir

Kritikan Terhadap Pemikiran Hassan Hanafi
Kritikan dari Mohd Nor Wan Daud, Guru besar di ISTAC, Malaysia yang menyoroti penggunaan hermeneutika yang dating dari Barat sebagai metode penafsiran untuk al-qur’an, kritik itu mengenai dasar fundamental konsepsi tentang sifat dan otoritas teks serta keontetikan dan kepermanenan bahasa dan pengertian kitab suci itu. Kondisi al-qur’an berbeda dengan kitab agama lainnya, karena menurutnya al-qur’an diwahyukan secara verbatim kepada Nabi. Selanjutnya, Ia mengatakan bahwa hemerneutika merupakan ilmu yang belum final sehingga jika dipaksakan digunakan untuk memahami al-qur’an maka akan mengalami jalan buntu. Sementara itu, Ali harb mengkritisi bahwa Hassan Hanafi sudah terjerumus kepada atheism, westernism, Marxism dan sekuleris. Ia mengganggap Hanafi telah menciptakan sistim berpikir yang memusatkan perhatiannya pada pembacaan wahyu dan penafsiran teks kemudian menajuhkan konsep-konsep keimanan yang umum terdapat dalam wacana keislaman, seperti Allah, Nabi, wahyu, teks, syariat dan akidah.

Jawaban Hassan Hanafi Atas Berbagai Kritikan
Kecurigaan dan prasangka buruk akan terjadinya sekulerism, westernisme, ateisme dan marxisme menjadikan umat Islam jauh dari tema kemajuan, masih berada dalam pemahaman yang kolot, konservatif dan tertutup. Tunduhan adanya sekulerisme tidak tepat karena itu murni menggambarkan masalah Barat yang menolak kekuasaan para agamawan, sementara dalam Islam pada hakikatnya sejak awal munculnya tidak ada istilah penguasa agama. Adanya ateisme, tuduhan ini juga tidak tepat karena kembali kepada kasus murni Barat, yang mengajak kembali ke alam dunia dan menyingkap alam indrawi dan nyata setelah sebelumnya didominasi oleh praktek dan budaya agama yang terlelap dalam percaturan alam gaib dan rahasia.
Dalam Islam dinyatakan bahwa Islam meruapakan agama yang didasari atas indera alam nyata dan sejalan dengan tradisi, tidak ada rahasia gaib yang bertentangan dengan akal dan tidak ada alam akhirat yang terpisah dari dunia serta ruh yang terpisah dari materi. Adanya Marxisme, karena hal ini secara tersirat juga dibahas oleh penafsir klasik terhadap unsur-unsur materi yang mempengaruhi perilaku dan adanya westernisasi, Barat pada periode pertengahan mengusung tema rasionalisasi, liberalisasi dan naturalisasi untuk menumpas kecendrungan keberagamaan yang artificial dan tunduk kepada penguasa. Dalam Islam ada kemiripan untuk membangun kejayaan dengan membentuk formula dalam wahyu. Dalam Islam manusia merupakan tema sentral alam semesta dan bentuk nyata dalam wujud semesta ini.

Penutup
Implikasi pendirian Hassan Hanafi tersebut di atas adalah tidak adanya nilai absolut dalam wilayah penafsiran. Setiap interpretasi mengalami relativitas sesuai dengan konteks penafsirannya. Dengan kata lain, yang absolut adalah relativitas itu sendiri. Kalaupun ada hal –hal yang dianggap absolut dan universal, sama sekali bukan berasal dari hasil dan proses penafsiran, akan tetapi menyangkut nilai-nilai tertentu yang menjadi prinsip penafsiran. Hassan Hanafi juga bermaksud menghindari segala macam klaim objektifitas. Menurutnya, semua penafsiran mengandung sisi ideologisnya sendiri-sendiri.
Penafsiran dalam kapasitasnya sebagai instrumen kepentingan selalu merefleksikan pertarungan struktur sosial dalam masyarakat. Alih-alih membela objektivitas, Hassan Hanafi justru bermaksud mengeksplisitkan subjektivitas dan kepentingan yang menjadi tujuan hermeneutika dan penafsirannaya. Eksplisitas semacam ini menjadi penting karena berfungsi sebagai pendasaran dan tujuan hermeneutika al Quran Hassan Hanafi. Dalam hermeneutika al-Quran, eksplisitas tersebut mengarahkan pembicaraan bukan pada benar salahnya sebuah penafsiran dalam pengertian yang hakiki, tetapi pada bagaimana sebuah argumen dibangun, disanggah atau didukung, berkaitan dengan bagaimana hubungan kebenaran dengan realitas. Hal ini berarti bahwa penafsiran sangat terkait dengan fungsionalitas teks dan bukannya pembicaraan teks yang melulu objektivistik.


0 komentar:

Post a Comment

Share it