Pendidikan Agama (Islam) Dan Budaya Sekolah

Posted by Kongkow edu On Tuesday, December 06, 2011 0 komentar
Saat ini pendidikan di negara ini masih berada dalam potret yang buram dan kondisi tertinggal dari negara-negara tetangga.[1] Diakui atau tidak, krisis multidimensional yang melanda negeri ini telah  membuka mata kita terhadap mutu pendidikan manusia Indonesia. Peningkatan mutu berkaitan dengan target yang ingin dicapai, proses untuk mencapai, dan faktor-faktor yang terkait. Dalam peningkatan mutu ada dua aspek yang perlu mendapatkan perhatian, yakni aspek kualitas hasil dan aspek proses mencapai hasil.[2]
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi diri peserta didik agar berguna bagi individu, masyarakat, bangsa, dan negara. Proses pendidikan ini akan memungkinkan peserta didik menghayati pengalaman belajar untuk mewujudkan empat pilar pendidikan, yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk mampu melakukan (learning to do), belajar menjadi diri sendiri (learning to be), dan belajar untuk hidup bersama (learning to live together). Dalam proses tersebut diperlukan keberadaan pendidik (guru) dan tenaga kependidikan yang memberikan keteladanan dan mampu membangun kemauan, serta mengembangkan potensi peserta didik secara optimal.[3]
Disampaikan oleh tim puslitbang pendidikan agama dan keagamaan bahwa pendidikan merupakan faktor penting yang menentukan dalam kehidupan suatu bangsa yang berbudaya. Kemajuan suatu bangsa sangat tergantung pada tingkat pendidikan yang diperolehnya. Dua aspek yang menjadi sorotan yaitu moral spiritual dan intelektual profesionalis. Kedua aspek tersebut perlu dikembangkan melalui sistem pendidikan yang berkualitas.
Selanjutnya, agama dianggap memiliki peran penting dalam mengembangkan moral spiritual peserta didik. Sehingga dibutuhkan pelaksanaan pendidikan agama yang tercakup dalam null curriculum dan hidden curriculum secara komprehensif. Pendidikan agama merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional (UU sisdiknas pasal 12) memiliki kontribusi yang besar dalam penanaman nilai-nilai moral spiritual dan perilaku keberagamaan peserta didik. Penanaman nilai-nilai keagamaan ini sangat diprioritaskan dalam pembelajaran pendidikan agama karena pendidikan agama berperan penting dalam pembentukan sikap dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kaitan ini maka keberhasilan penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah harus mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan seperti pemerintah, masyarakat maupun lembaga sosial keagamaan yang ada.
Salah satu faktor untuk mencapai tujuan pendidikan sekolah dan kinerja sekolah perlu dibangun budaya organisasi di sekolah. Masalah yang muncul dalam penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah adalah hasil pelaksanaan pendidikan agama kurang optimal karena pendidikan agama lebih dirasakan sebagai sebagai pengajaran yang kurang menyentuh aspek sikap dan perilaku pembiasaan. Kurang optimalnya pendidikan agama sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti: kualitas SDM, terbatasnya waktu dan kultur/budaya sekolah yang dikembangkan. Di samping itu, masih banyak keluhan masyarakat terhadap pendidikan agama yang belum mampu mengokohkan akidah dan moral bangsa.
Budaya sekolah adalah satu elemen sekolah yang teramat penting dan nyata, tetapi sangat sulit untuk mendefinisikannya. Menurut Deal dan Peterson (1999), budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut dimasyarakat sekolah. Pemahaman terhadap budaya sekolah merupakan salah satu faktor penting dalam struktur reformasi dan kebijakan pendidikan di mana pun. Budaya sekolah (school culture) dan proses belajar-mengajar, merupkan dua aspek yang saling keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan karena memberi arti banyak dalam menentukan perspektif dan ragam tindakan pengajaran.
Budaya dari setiap sekolah bisa jadi memiliki efek positif terhadap proses belajar-mengajar atau sebaliknya memiliki efek negatif serta menghalangi berfungsinya sebuah sekolah. Hanson dan Childs (1998) menggambarkan sekolah dengan suatu iklim sekolah yang positif sebagai suatu wadah tempat siswa dan guru saling berbagi dan mereka menggunakan ketulusan hati dalam proses belajar.
Budaya sekolah akan menumbuhkan motivasi belajar siswa menjadi manusia yang penuh optimis, berani tampil, disiplin, berperilaku kooperatif, bertanggung jawab dan memiliki rasa kebersamaan yang baik. Motivasi belajar siswa akan memberikan pengalaman bagi tumbuhkembangnya kecerdasan, ketrampilan, dan aktivitas siswa yang pada akhirnya berpengaruh terhadap mutu pendidikan pada umumnya .
Dari hasil kajian empiris menunjukan bahwa peningkatan kinerja sekolah sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya yang dikembangkan dalam sekolah tersebut, dimana nilai-nilai yang dikembangkan di sekolah, tentunya tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sekolah itu sendiri sebagai organisasi pendidikan, yang memiliki peran dan fungsi untuk mengembangkan, melestarikan dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada para siswanya. Budaya sekolah terbentuk dari eratnya kegiatan akademik dan kesiswaan, seperti dua sisi mata uang logam yang tak dapat dipisahkan. Melalui kegiatan ekstrakurikuler yang beragam dalam bidang keilmuan, keolahragaan, dan kesenian membuat siswa dapat menyalurkan minat dan bakatnya masing-masing.


[1]Sebagai bahan bandingan  HDI (Human development Index) yang dikeluarkan oleh UNDP melaporkan bahwa  indonesia berada pada ranking 111 pada tahun 2004, lihat E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007) h. 3
[2]Zamroni, Meningkatkan Mutu Sekolah,  (Jakarta; PSAP Muhammadiyah, 2007), h. 2
[3]Departemen Agama Badan dan Diklat Balai Penelitian dan Pengembangan Agama, Pendidikan Agama di Era Reformasi, (Jakarta: Penamas; Jurnal Penelitian Agama dan Kemasyarakatan, 2008) h. 216

0 komentar:

Post a Comment