Gagasan Pembentukan dan Perkembangan Perguruan Tinggi Islam Indonesia

Posted by Muhamad Fauzi On Saturday, October 03, 2009 0 komentar
Urgensitas pendidikan bagi perkembangan peradaban bangsa nampak disadari oleh masyarakat Islam Indonesia. Sebagai penduduk mayoritas Negara Indonesia, mereka berupaya secara maksimal agar memiliki institusi untuk mencetak generasi muslim Indonesia yang intelek. Berbagai upaya telah mereka lakukan diantaranya membentuk madrasah – madrasah sampai kepada Perguruan Tinggi Islam, dengan tujuan sebagai sarana untuk mengembangkan potensi – potensi yang terdapat pada masyarakat Islam. Perlu diketahui bahwa Pendidikan Islam di Indonesia telah memberikan warna baru bagi perkembangan pendidikan di Indonesia.

Pendidikan Islam di Indonesia mulai berkembang sejak sebelum kemerdekaan bangsa ini terwujud. Sebagai bukti konkritnya, Islam telah merintis Sekolah Tinggi Islam (STI) sebagai respon yang tepat menanggapi keadaan masyarakat Islam Indonesia pada saat itu. Hal ini dapat dijadikan sebuah solusi guna memajukan peradaban bangsa Indonesia yang sedang mengalami keterpurukan.
Adapun Sekolah Tinggi Islam (STI) ini dalam perjalanannya, mengalami berbagai perubahan dan perkembangan sesuai dengan tuntutan zaman. Dimulai dari Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jaman Jepang, sebagai respon keinginan umat Islam untuk mempelajari agama, sampai kepada terbentuknya Universitas Islam Negeri yang ada sekarang ini, sebagai sarana untuk membentuk sumber daya manusia yang mampu berkompetisi, guna menyongsong milennium baru dengan persaingannya yang semakin ketat.
Periodesasi dan Perkembangan Perguruan Tinggi Islam (STI) di Indonesia
Sebelum Indonesia merdeka, pada tahun 1938 di Jawa juga sudah muncul gagasan untuk membentuk Sekolah Tinggi Islam, yang di cetuskan oleh Dr. satiman di Majalah PM No.15, yang terkenal dengan istilah “pesantren luhur”, sebagai tempat mendidik para mubaligh yang intelek. Meskipun gagasan ini disambut baik, dengan diadakannya musyawarah tiga badan pendiri sekolah tinggi di Jakarta, Solo dan Surabaya. Namun gagasan ini terhambat karena penjajahan Jepang pada saat itu. Usaha umat Islam akhirnya terwujud kembali, dengan terbentuknya Sekolah Tinggi Islam, Sekolah Tinggi ini merupakan sekolah tinggi pertama di Indonesia, yang bertujuan untuk mencetak para ulama yang intelek. Sekolah Tinggi ini berada di Minangkabau yang berdiri pada tanggal 9 Desember 1940, atas prakarsa Mahmud Yunus sebagai ketua persatuan guru – guru agama Islam (PGAI) di Padang. Namun sekolah ini hanya berjalan kurang lebih dua tahun lamanya. Hal ini dikarenakan penjajahan Jepang atas Indonesia, yang tidak mengijinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam. Namun atas tekad yang kuat dari umat Islam untuk mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI), maka berdirilah pada bulan Juli 1945, atas inisiatif para pemimpin Islam dalam yayasan Studi Islam Jakarta, yang diketuai Moh. Hatta dan M. Natsir dengan anggota yang terlibat antara lain KH Wahid Hasyim, KH Mas mansyur, KH Fathurahman Kafrawi dan KH. Abdul Kahar Muzakkir.
Namun akibat terjadinya pergolakan politik yang menyebabkan berpindahnya pusat pemerintahan dari Jakarta ke Yogyakarta, STI pun ikut berpindah ke Yogyakarta. dan yang resmi berganti nama pada tanggal 22 Maret 1948 menjadi Universitas Islam Indonesia (UII), dengan tambahan Fakultas – Fakultas baru. Sehingga berjumlah 4 Fakultas, antara lain: 1) Fakultas Agama; 2)Fakultas Hukum; 3) Fakultas Ekonomi; 4) Fakultas Pendidikan.
Setelah Indonesia merdeka pusat pemerintahan kembali ke Jakarta, pemerintah menawarkan kepada UII untuk dinegerikan. Dan UII pun menerima dengan syarat berada di bawah naungan Departemen Agama. Sehingga yang bisa dinegerikan hanya satu Fakultas yaitu Fakultas Agama dengan PP NO. 4 Tahun 1950 yang ditandatangani Presiden pada tanggal 14 Agustus 1950 dan diserahkan kepada pemerintah dengan nama baru, yaitu Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN). Sehingga UII tidak lagi memiliki Fakultas Agama.
Selain itu para pemimpin Islam juga mendirikan Universitas Islam di Solo (UIS) pada tanggal 22 Januari 1950, yang kemudian pada tanggal 20 Februari 1951 disatukan dengan UII dengan nama Universitas Islam Indonesia.
Namun, setelah berjalan beberapa tahun, kemampuan PTAIN di Yogyakarta, tidak memadai lagi untuk menampung minat calon mahasiswa Islam Indonesia. Selain itu, jumlah guru agama kuantitasnya belum memenuhi standar yang dibutuhkan pada saat itu, maka untuk solusinya dibentuklah pada tanggal 1 Juni 1957 Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) di Jakarta, berdasarkan Peraturan Menteri Agama No. 1 Tahun 1957, yang terdiri dari dua jurusan, yaitu: Pendidikan Agama dan Sastra. Selanjutnya ketika Departemen Agama membutuhkan banyak tenaga kerja seperti Hakim dan tenaga ahli agama, Maka ADIA menambah jurusan, yaitu jurusan Hakim Agama. Namun ADIA merupakan Sekolah Tinggi Islam yang hanya baru dapat mencetak tenaga pengajar dan pegawai di lingkungan Departemen Agama saja.
Dalam perkembangannya terjadi perpaduan yang sangat hebat dalam perguruan Tinggi Islam di Indonesia, yaitu bersatunya PTAIN di Yogyakata dengan ADIA di Jakarta menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Hal ini dilatarbelakangi oleh keinginan Gubenur Aceh membuat perguruan tinggi Islam dan umum untuk pemulihan keamanan. Maka disetujui oleh presiden, namun dalam perealisasiannya terjadi perebutan pelaksanaan antara menteri P dan K dengan Menteri Agama. Maka diadakan perundingan yang memutuskan hanya Departemen P dan K yang berhak mengelola Universitas sedangkan Depatemen lainya hanya dibolehkan mengelola “Akademi Dinas”. Dan keluar PP No.11 Tahun 1960, yang membentuk IAIN . Pada awalnya IAIN terbagi menjadi dua bagian, di Jakarta dan Yogyakarta, yang keduanya menjadi koordinator pusat untuk fakultas – fakultas yang berada di daerah.
Namun setelah berkembang fakultas – fakultas yang berada di daerah menggabungkan diri, dengan syarat memiliki sekurang – kurangnya tiga fakultas. Hal ini dapat dilaksanakan berdasarkan Peraturan Presiden No. 27 Tahun 1963. Dan pada perkembangan selanjutnya, bagi fakultas yang tidak memenuhi syarat menjadi IAIN, pada tahun 1997 dibentuk menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), berdasarkan KEPPRES No. 11 tahun 1997.
Setelah beberapa puluh tahun eksistensi IAIN dengan ilmu – ilmu Agamanya, Maka timbul gagasan baru untuk menambah ilmu – ilmu umum bagi para mahasiswanya. Gagasan ini merupakan ide dari MENAG Tarmidzi Taher yang dicoba untuk didiskusikan dengan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Pada Saat itu, Harun Nasution, yang sebelumnya juga sudah memikirkan hal tersebut. Hal ini didasarkan atas kebutuhan umat yang semakin berkembang dengan pola pikir yang maju, pada era bertekhnologi mutakhir. Sehingga yang dibutuhkan Masyarakat tidak hanya ilmu agama melainkan sains.
Gagasan tersebut baru terealisasi, berdasakan KEPPRES No. 31 Tahun 2002, yang merubah status IAIN Syarif Hidayatullah-Jakarta menjadi UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta. UIN berupaya mengembalikan masa kejayaan Islam dengan mencetak mahasiswa- mahasiswa yang memiliki keluhuran moral, kedalaman spiritual dan kecerdasan intelektual serta kematangan profesional. Sehingga dapat menjadi pusat keunggulan studi dan pemikiran Islam.

Sistem Perguruan Tinggi Islam Indonesia
Periode Sekolah Tinggi Islam (STI)
Sekolah Tinggi Islam ini terdiri dari dua Fakultas, yaitu :
Fakultas Syari’ah dan Fakultas Pendidikan dan Bahasa Arab. Adapun materi pelajarannya sebagai berikut, Ilmu Agama (Fiqih, Ushul fiqih, Tafsir dan Hadis serta Ilmu Kalam), Bahasa Arab ( sharaf, adabul lughah, mengarang dan menghafal serta muthala’ah), pendidikan,mantik, tarikh, sosiologi, bahasa Indonesia, Inggris dan Belanda.
Periode Peguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN)
Berdasarkan Peraturan bersama antara Menteri Agama Dan menteri P.P.K, menyatakan bahwa, lama belajar di PTAIN selama 4 tahun, dengan rincian sebagai berikut:
Tingkat I, Propaedeuse selama 1 tahun, dengan pelajaran : Bahasa Arab, Pengantar Ilmu Agama, Fiqih, Ushul fiqih, Tafsir dan Hadis serta Ilmu Kalam, Tingkat II, kandidat selama 1 tahun dengan berjenis Balaureat selama 1 tahun; di akhiri ujian Bakalaureat dan Kandidat dengan pelajaran: Bahasa Arab, Mantik, Filsafat, Akhlak, Tasawuf dan Perbandingan Agama. Tingkat III Doktoral selama 2 tahun dan diakhiri ujian Dokoral, dengan pelajaran: Tarbiyah, yaitu: Bahasa Arab, Tafsir, Hadis, Ilmu Jiwa dan Salah satu pelajaran (Filsafat, Akhlak, Tasawuf dan Ilmu Kalam), Dakwah, yaitu: Bahasa Arab, Fiqih, Ushul fiqih, Tafsir dan Hadis serta Salah satu pelajaran (Filsafat, Akhlak, Tasawuf dan Ilmu Kalam), Qadla’, yaitu: Fiqih, Ushul fiqih, Tafsir, Pengantar Hkum Asas – asas hukum publik dan privat serta Salah satu pelajaran (Filsafat, Akhlak, Tasawuf dan Ilmu Kalam).
Periode Akademi Dinas ilmu Agama (ADIA)
ADIA bertujuan untuk mencetak ahli didik untuk sekolah lanjutan. Adapun Akademi ini terbagi menjadi dua tingkat pendidikan, yaitu Semi Akademi, lama belajar 3 tahun, dengan jurusan pendidikan Agama dan sastra Arab. Setelah itu dilanjutkan ke tingkat selanjutnya, yaitu akademi dengan lama belajar 2 tahun dengan jurusan pendidikan Agama dan sastra Arab. Bagi lulusan semi akademi hanya berhak menjadi guru bahasa arab saja sedangkan lulusan akademi berhak mendapat ijazah ahli agama.
Periode Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
IAIN tempatnya terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Yogyakarta, Fakultas Ushuluddin, dengan 4 jurusan: Dakwah, Filsafat, Tassawuf dan Perbandingan Agama dan Syari’ah, dengan 3 jurusan: tafsir hadits dan Fiqih.
2. Jakarta, Fakultas Adab, dengan 4 jurusan: Sastra Arab, Persia, Urdu dan Sejarah Kebudayaan Islam dan Tarbiyah, dengan 3 Jurusan: Pendidikan Agama, keguruan dan Khusus (Imam tentara).
Adapun lama belajarnya selama 5 tahun, dengan tingkatan sebagai berikut:
Tingkat I, Propaedeuse selama 1 tahun, Tingkat II, kandidat selama 1 tahun, Tingkat III, Bakalaureat selama 1 tahun; di akhiri ujian Bakalaureat (Sarjana Muda) dan Tingkat IV, Doktoral selama 2 tahun dan diakhiri ujian Dokoral (Sarjana).
Periode Unirversitas Islam Negeri (UIN)
UIN merupakan Universitas yang mampu mengkonversikan ilmu agama dengan ilmu umum (sains). Maka UIN memiliki peran ganda mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang bernuansakan agama. Sehingga UIN menjadi lembaga pendidikan tinggi yang mengintegrasikan keislaman, keilmuan dan keindonesia serta wawasan global. UIN berupaya menjadi Perguruan Tinggi Islam di Indonesia yang memiliki kualitas pemberdayaan dan pengembangan akademik, administrasi, pelayanan dan seluruh komponen berikut perangkat kerjanya secara profesinal dan optimal.
Adapun Fakultasnya terdiri dari: Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Adab dan Humaniora, Ushuludin dan filsafat, Syari’ah dan Hukum, Dakwah dan Komunikasi, Dirasat Islamiyah, Psikologi, Ekonomi dan Ilmu Sosial, Sains dan Tekhnologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan serta Program Pascasarjana, Magister dan Doktor yang berkonsentrasi kepada bidang ; Pemikiran Islam, Syari’ah, Pendidikan Islam, Sejarah dan Peradaban Islam, Tafsir – Hadis, Bahasa dan Sastra Arab, Dakwah dan Komunikasi, Ekonomi Islam dan Interdisiplinary Islamic Studies.

Penutup
Maka dapat disimpulkan bahwa adanya Perguruan Tinggi Islam di Indonesia merupakan murni gagasan umat Islam yang mampu direalisasikan. Sehingga dapat berkembang secara signifikan, dari mulai awal terbentuknya Sekolah Tinggi Islam sampai menuju kepada Universitas Islam Negeri. Hal ini merupakan bukti konkrit sumbangan umat Islam bagi bangsa Indonesia, sekaligus sebagai sarana masyarakat Islam untuk mencetak intelektual muslim yang mampu menguasai ilmu – ilmu agama dan sains, sebagaimana yang terdapat pada masa lampau di zaman klasik, seperti: Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina serta intelektual muslim lainnya. maka oleh karena itu sudah sepatutnya kita memberikan kontribusi yang jelas bagi pendidikan Islam Indonesia, dengan peralisasian sistem yang ada dan mengadakan inovasi guna mengembangkan pendidikan Indonesia khususnya pendidikan Islam.
Demikian makalah ini kami susun. Meskipun kami sadari masih terdapat banyak kekurangan, baik dari segi penulisan maupun uraian materi. Namun kami berharap makalah ini dapat bermanfaat, untuk memotisivasi diri dalam mendalami sejarah pendidikan Islam di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Asrohah. Hanun, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta; Logos, 1999

Azra. Azyumardi, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta; Logos,2000

Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia; Lintasan Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan, Jakarta; Raja Grafindo Persada, 1995

Hasjmy. A., Mengapa Umat Islam mempertahankan Pendidikan Agama, Jakarta; Bulan Bintang, 1979

Jabali. Fuad dan Jamhari, IAIN Modernisasi Islam di Indonesia, Jakarta; Logos Wacana Ilmu, 2002

Pedoman Akademik UIN Syarif Hidayatullah - Jakarta 2005-2006

Sumardi. M, Sejarah Singkat Pendidikan Islam di Indonesia;1945-1975, Jakarta;Dharma Bhakti, 1978

Sunanto. Musyrifah, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, Jakarta; Raja Grafindo, 2005

UIN Jakarta, Proses Perubahan IAIN Menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Rekaman Media Massa, Jakarta; UIN Jakarta Press, 2002

Yunus. Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta; Hidakarya, 1989




0 komentar:

Post a Comment

Share it